Century, Nazaruddin, Nunun, Lapindo, kerusuhan berbau SARA, pengangguran, kemiskinan, budaya korupsi, budaya mencontek. Tidak bangga menjadi bangsa Indonesia?
Terlepas dari segala hal positif yang telah diukir oleh bangsa ini, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa republik ini telah terlalu sakit. Kronis. Atau mungkin masyarakat sudah terlanjur apatis karena terlalu banyak dikecewakan. Tidak benar. Tidak salah.
Saat Om saya berkata, saya tidak bangga jadi Warga Negara Indonesia. Entah kenapa saat itu saya menjadi naik pitam. Padahal seharusnya atas asas kebebasan berpendat, saya seharusnya bisa menghargai pendapat tersebut. Pendapat yang mungkin memiliki banyak simpatisan.
Tetapi bagaimana bisa?
Bukankah kita dilahirkan di bumi pertiwi yang sama?
Bukankah kita makan nasi, sayur mayur, buah-buahan dari tanah yang sama?
Bukankah kita makan ikan dari laut yang sama?
Bukankah kita merdeka dari keringat dan tumpah darah para pahlawan yang sama?
Lalu mengapa dengan tega berkata sedingin itu?
Apakah saat 66 tahun yang lalu bendera merah putih akan dikibarkan dan lagu Indonesia akan dikumandangkan seharusnya diinterupsi dan bilang, "Kita tidak usah merdeka saja Kawan, saya tidak bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia!"
Apakah kita akan lebih bangga untuk terus dijajah dan menjadi negara jajahan yang besar dan makmur dibawah jajahan bangsa lain?
Kalau saya, saya lebih memilih merdeka sebagai bangsa Indonesia. Dan untuk merdeka, kita harus berani untuk sadar. Sadar atas pilihan kita, sadar atas konsekuensi yang mewajibkan kita untuk terus berjuang.
Selamat ulang tahun Indonesia
semoga kita dapat terus berjuang bersama.
*66
All-You-Can-Eat Mission: Tairyo
3 minggu yang lalu




0 komentar:
Poskan Komentar